Purchase Requisition (PR): Pengertian, Proses, dan Bedanya dengan Purchase Order

Purchase Requisition (PR): Pengertian, Proses, dan Bedanya dengan Purchase Order

Dalam menjalankan sebuah bisnis, baik itu skala menengah maupun perusahaan korporasi raksasa, kegiatan belanja atau pengadaan barang dan jasa (procurement) adalah hal yang tidak bisa dihindari. Mulai dari membeli alat tulis kantor, laptop untuk karyawan baru, hingga membeli mesin pabrik bernilai miliaran rupiah, semuanya membutuhkan proses pembelian.

Namun, bayangkan jika setiap karyawan diizinkan untuk membeli barang secara langsung menggunakan uang perusahaan tanpa adanya pengawasan. Anggaran perusahaan pasti akan bocor, terjadi pemborosan, dan risiko kecurangan (fraud) akan sangat tinggi.

Untuk mencegah kekacauan finansial tersebut, dunia bisnis modern menerapkan sebuah prosedur standar dalam rantai pengadaan barang. Langkah pertama dan paling krusial dari prosedur tersebut dinamakan Purchase Requisition (PR) atau Permintaan Pembelian.

Bagi kawan-kawan yang bekerja di divisi Keuangan (Finance), Pengadaan (Purchasing/Procurement), atau para pemilik bisnis, memahami alur PR adalah sebuah kewajiban. Artikel ini akan membahas secara tuntas mengenai apa itu Purchase Requisition, apa saja komponennya, bagaimana proses kerjanya, perbedaannya yang sangat penting dengan Purchase Order (PO), hingga praktik terbaik dalam mengelolanya.

Apa Itu Purchase Requisition (PR)?

Secara harfiah, Purchase Requisition (PR) diterjemahkan sebagai Permintaan Pembelian.

Dalam praktiknya, Purchase Requisition adalah sebuah dokumen internal resmi yang dibuat oleh seorang karyawan atau departemen tertentu di dalam perusahaan untuk meminta persetujuan pembelian barang atau jasa. Dokumen ini diajukan kepada manajer terkait, divisi keuangan, dan akhirnya kepada divisi pembelian (Purchasing Department).

Purchase Requisition adalah dokumen internal. Dokumen ini tidak pernah dikirimkan kepada pihak luar (pemasok/vendor). Ini murni merupakan alat komunikasi antar-departemen di dalam satu perusahaan.


Sebagai contoh sederhana: Tim Marketing membutuhkan 5 unit laptop baru untuk karyawan yang baru direkrut. Manajer Marketing tidak bisa langsung menelepon toko komputer untuk memesan. Ia harus mengisi formulir Purchase Requisition, merinci spesifikasi laptop yang dibutuhkan, dan menyerahkannya ke divisi Purchasing setelah disetujui oleh Direktur Marketing dan divisi Keuangan.

Komponen Penting dalam Formulir Purchase Requisition

Agar proses pembelian berjalan lancar dan tidak ada kesalahan spesifikasi barang, sebuah formulir PR harus diisi dengan informasi yang sangat detail. Formulir PR yang standar dan profesional umumnya memuat elemen-elemen berikut:

  • Nomor PR (PR Number): Nomor urut unik untuk memudahkan pelacakan dokumen dan keperluan audit.
  • Tanggal Permintaan: Tanggal di mana dokumen PR tersebut dibuat dan diajukan.
  • Informasi Pemohon (Requester Info): Nama karyawan, jabatan, dan departemen yang meminta barang (misalnya: Budi, Staf IT, Departemen IT).
  • Deskripsi Barang/Jasa: Penjelasan detail mengenai barang yang diminta. Jika berupa barang teknis, harus menyertakan spesifikasi, merek, atau nomor model (misalnya: Laptop Merek X, RAM 16GB, SSD 512GB).
  • Kuantitas (Quantity): Jumlah barang yang dibutuhkan.
  • Perkiraan Harga (Estimated Price): Estimasi harga satuan dan total harga. Ini membantu divisi keuangan untuk mengecek ketersediaan anggaran.
  • Alasan Permintaan (Business Justification): Penjelasan mengapa barang tersebut sangat dibutuhkan oleh departemen yang bersangkutan.
  • Kode Anggaran (Budget Code / Cost Center): Menunjukkan dari pos anggaran departemen mana biaya pembelian ini akan dipotong.
  • Tanggal Kebutuhan (Required Delivery Date): Tenggat waktu kapan barang tersebut paling lambat harus sudah diterima dan digunakan.
  • Tanda Tangan Persetujuan (Approval Signatures): Kolom tanda tangan berjenjang, mulai dari pemohon, kepala departemen (Manajer), hingga pihak Keuangan/Direktur.

5 Manfaat Utama Menerapkan Purchase Requisition

Bagi sebagian karyawan, mengisi form PR mungkin dianggap sebagai birokrasi yang memperlambat pekerjaan. Namun, dari sudut pandang manajemen dan kelangsungan bisnis, PR memberikan manfaat yang sangat masif:

1. Mencegah Kecurangan (Fraud Prevention)

Ini adalah fungsi pengawasan utama. Dengan mewajibkan adanya PR yang disetujui oleh beberapa pihak (manajer dan keuangan), perusahaan mencegah terjadinya pembelian fiktif atau pembelian barang untuk kepentingan pribadi karyawan menggunakan dana perusahaan.

2. Kontrol Anggaran (Budget Control)

Setiap kali PR diajukan, divisi Keuangan akan memeriksa apakah departemen yang bersangkutan masih memiliki sisa anggaran (budget) di tahun berjalan. Jika anggaran sudah habis, PR dapat ditolak. Hal ini mencegah perusahaan dari pengeluaran yang berlebihan (overspending).

3. Menciptakan Jejak Audit (Audit Trail)

Auditor internal maupun eksternal sangat menyukai sistem PR yang rapi. Jika suatu hari ditemukan pengeluaran yang mencurigakan, auditor dapat melacak kembali dokumen PR untuk melihat siapa yang meminta barang tersebut, siapa yang menyetujui anggarannya, dan apa alasannya.

4. Sentralisasi Pembelian

Dengan adanya PR, seluruh aktivitas pembelian difokuskan pada satu pintu, yaitu divisi Purchasing. Divisi ini memiliki keahlian dalam menawar harga (negosiasi), mencari vendor yang paling murah, dan membeli barang dalam jumlah besar (bulk buying) untuk mendapatkan diskon, alih-alih setiap departemen membeli sendiri-sendiri dengan harga eceran.

5. Bukti Sah untuk Divisi Purchasing

Bagi divisi Purchasing, dokumen PR adalah "surat perintah kerja". Mereka tidak akan berani mengeluarkan uang atau memesan barang ke vendor tanpa adanya dokumen PR yang sudah ditandatangani lengkap. PR membebaskan divisi Purchasing dari kesalahan jika kelak barang yang datang ternyata spesifikasinya salah (mereka tinggal mencocokkan dengan apa yang ditulis pemohon di form PR).

Standar Operasional Prosedur (SOP): Alur Proses Purchase Requisition

Proses pengajuan PR dari awal hingga barang siap dibeli melibatkan alur kerja (workflow) yang runtut. Berikut adalah langkah-langkah standarnya:

Langkah 1: Identifikasi Kebutuhan

Proses dimulai ketika seorang karyawan atau departemen menyadari adanya kebutuhan barang atau jasa untuk operasional pekerjaan mereka.

Langkah 2: Pembuatan Dokumen PR

Karyawan tersebut (Pemohon / Requester) mengisi formulir Purchase Requisition secara lengkap, baik itu menggunakan form kertas manual, dokumen Excel, atau melalui sistem perangkat lunak perusahaan (ERP).

Langkah 3: Persetujuan Kepala Departemen (Manager Approval)

Dokumen yang sudah diisi diserahkan kepada manajer langsung dari departemen tersebut. Manajer akan menilai apakah permintaan ini benar-benar perlu, masuk akal, dan mendesak. Jika tidak disetujui, dokumen dikembalikan. Jika disetujui, manajer akan membubuhkan tanda tangan.

Langkah 4: Verifikasi Anggaran (Finance Approval)

Dokumen diteruskan ke departemen Keuangan. Staf keuangan akan mencocokkan nilai estimasi harga pada PR dengan alokasi anggaran (budget) departemen pemohon. Jika dana tersedia, Keuangan akan menyetujuinya. (Pada beberapa perusahaan, jika nilai PR sangat besar, misalnya di atas seratus juta rupiah, persetujuan harus sampai ke level Direktur Utama).

Langkah 5: Penyerahan ke Divisi Purchasing

Dokumen PR yang telah disetujui sepenuhnya (disebut Approved PR) akhirnya diserahkan ke divisi Pengadaan (Purchasing / Procurement Department).

Langkah 6: Proses Sourcing dan PO

Setelah menerima PR, staf Purchasing akan mulai mencari pemasok (vendor/supplier), meminta penawaran harga (Quotation), dan membandingkan harga. Setelah menemukan vendor yang tepat, barulah divisi Purchasing akan membuat Purchase Order (PO) untuk dikirim ke vendor tersebut.

Purchase Requisition (PR) vs Purchase Order (PO): Apa Bedanya?

Ini adalah topik yang paling sering membuat kebingungan, terutama bagi mereka yang baru masuk ke dunia administrasi bisnis. Banyak yang mengira PR dan PO adalah hal yang sama.

Meskipun keduanya adalah dokumen krusial dalam siklus pembelian, mereka memiliki sifat, pembuat, dan tujuan yang sepenuhnya berbeda. Mari kita lihat tabel perbandingan berikut untuk memperjelas perbedaannya:

Aspek PenilaianPurchase Requisition (PR)Purchase Order (PO)
Pengertian DasarPermintaan internal untuk mendapatkan izin membeli barang.Pesanan resmi dari perusahaan kepada vendor untuk membeli barang.
Sifat DokumenInternal. Hanya beredar di dalam perusahaan (antar departemen).Eksternal. Dikirimkan keluar perusahaan kepada pihak ketiga (Pemasok/Vendor).
Pihak yang MembuatKaryawan atau departemen mana pun yang membutuhkan barang (Misal: HRD, IT, Pabrik).Hanya dibuat oleh Departemen Pengadaan (Purchasing / Procurement).
Kekuatan HukumTidak mengikat secara hukum. Hanya dokumen administratif internal perusahaan.Mengikat secara hukum (Legal Contract). Jika disetujui vendor, ini menjadi kontrak jual beli resmi.
Kapan Dibuat?Dibuat di Awal proses, sebelum barang dicari atau dipesan.Dibuat Setelah PR disetujui dan vendor pemasok sudah dipilih.
Informasi HargaBerisi estimasi harga (perkiraan) dari pemohon.Berisi harga pasti (fix price) yang sudah disepakati antara Purchasing dan Vendor.

Ilustrasi Sederhana Perbedaan PR dan PO:

  • PR: "Halo Bos dan tim Keuangan, mesin fotokopi di ruang HRD rusak total. Kami minta izin untuk beli yang baru seharga kira-kira 15 juta. Boleh tidak?" (Internal).
  • PO: "Halo Toko Elektronik ABC, kami dari PT Maju Jaya ingin memesan 1 unit mesin fotokopi merek X tipe Y dengan harga yang sudah kita sepakati yaitu 14,5 juta. Tolong kirim ke kantor kami besok beserta fakturnya." (Eksternal).

Posisi PR dalam Siklus Procure-to-Pay (P2P)

Untuk memahami ekosistem logistik secara keseluruhan, kawan-kawan harus tahu bahwa PR dan PO adalah bagian dari siklus bisnis besar yang disebut Procure-to-Pay (P2P). Siklus P2P adalah seluruh proses mulai dari meminta barang hingga akhirnya perusahaan membayar tagihan ke vendor.

Berikut adalah urutan siklus P2P:

  1. Purchase Requisition (PR): Permintaan barang.
  2. Sourcing: Pencarian vendor dan negosiasi harga.
  3. Purchase Order (PO): Pemesanan barang ke vendor.
  4. Goods Receipt (GR): Penerimaan barang fisik di gudang perusahaan. (Gudang akan mencocokkan barang yang datang dengan dokumen PO).
  5. Invoice Receipt: Penerimaan faktur/tagihan dari vendor.
  6. 3-Way Matching: Proses di mana divisi Keuangan mencocokkan tiga dokumen: PO, Tanda Terima Barang (GR), dan Faktur (Invoice). Jika ketiganya cocok (jumlah barang dan harga sama), maka tagihan sah.
  7. Payment: Perusahaan mentransfer pembayaran ke rekening vendor.

Seperti yang kawan-kawan lihat, PR adalah Fondasi Pertama dari seluruh siklus Procure-to-Pay ini. Jika langkah PR ini salah atau terlewat, seluruh rantai proses ke belakangnya akan hancur berantakan.

Kesalahan Umum dalam Mengelola Purchase Requisition

Meskipun sistem sudah dibuat, implementasi di lapangan sering kali menemui kendala akibat human error. Berikut adalah beberapa masalah umum yang sering memperlambat proses PR:

  • Deskripsi Barang Ambigu: Pemohon hanya menulis "Minta Kertas" tanpa merinci ukurannya (apakah A4, F4, atau A3?) dan ketebalannya (70 gram atau 80 gram?). Ini membuat tim purchasing kebingungan dan harus menelepon pemohon berulang kali.
  • Sindrom "Urgent": Hampir semua karyawan menandai PR mereka sebagai "Sangat Mendesak" (Urgent), padahal barang tersebut baru akan dipakai bulan depan. Ini mengacaukan prioritas kerja tim Purchasing.
  • Melewati Jalur Prosedur (Bypass): Karyawan langsung membeli barang ke toko menggunakan uang pribadi lalu meminta ganti rugi (reimbursement) kepada perusahaan, tanpa membuat PR terlebih dahulu. Ini adalah pelanggaran prosedur yang sering membuat pusing tim keuangan.
  • Tersendat di Meja Persetujuan (Approval Bottleneck): Formulir kertas menumpuk di meja manajer yang sedang cuti atau bertugas ke luar kota, membuat proses pengadaan barang terhenti total berhari-hari.

Transformasi Digital: Dari Kertas Menuju e-Procurement

Menyikapi masalah lambatnya proses persetujuan dan risiko formulir kertas yang hilang, perusahaan modern kini telah beralih dari PR manual (berbasis kertas atau email Excel) menuju Digital Purchase Requisition menggunakan perangkat lunak (Software/Sistem ERP) seperti SAP, Oracle, atau aplikasi e-procurement lokal.

Digitalisasi ini membawa revolusi besar dalam efisiensi operasional:

  1. Persetujuan Instan (Mobile Approval): Manajer dapat menyetujui atau menolak PR melalui layar smartphone mereka kapan saja dan di mana saja, meskipun sedang berada di luar negeri.
  2. Visibilitas Anggaran Real-Time: Saat karyawan menginput PR di sistem komputer, sistem akan langsung menampilkan sisa anggaran (budget) departemen tersebut. Jika budget kurang, sistem secara otomatis akan mencegah PR tersebut diajukan (hard block).
  3. Katalog Internal Terintegrasi: Mirip seperti berbelanja di e-commerce (Shopee/Tokopedia), karyawan tinggal memilih gambar barang (misal: mouse, kursi kantor, kertas) dari katalog internal yang sudah disediakan sistem. Deskripsi dan spesifikasi sudah otomatis akurat, sehingga menghilangkan masalah deskripsi yang ambigu.
  4. Otomatisasi Konversi PR ke PO: Tim Purchasing tidak perlu lagi mengetik ulang data dari formulir kertas. Dengan satu kali klik, data pada Digital PR yang sudah disetujui dapat langsung diubah menjadi Purchase Order (PO) digital untuk dikirim ke vendor.

Kesimpulan

Purchase Requisition (PR) mungkin tampak seperti sekadar formalitas pengisian formulir, namun pada kenyataannya, dokumen ini adalah tulang punggung dari kedisiplinan finansial sebuah perusahaan.

Tanpa sistem PR yang kuat, perusahaan akan rentan terhadap pembengkakan anggaran, pembelian barang yang tidak perlu, kecurangan karyawan, dan kekacauan administrasi. Dengan memahami fungsi PR secara mendalam serta mengetahui batas perbedaannya yang tegas dengan Purchase Order (PO), departemen Pengadaan dan Keuangan dapat bekerja sama menciptakan rantai pasok (supply chain) yang efisien, transparan, dan akuntabel.

Di era bisnis yang serba cepat ini, beralih ke sistem PR digital bukanlah sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak agar perusahaan tetap lincah dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya tanpa harus mengorbankan kontrol atas keuangannya. Tentu saja, bisnis yang sehat selalu dimulai dari proses administrasi yang kuat dari dalam.

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url